Halaman

Minggu, 29 Juli 2012

Oleh-oleh dari Kalimantan

Pembangunan seringkali diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi, bila kondisi ekonomi suatu masyarakat tinggi maka seringkali pula dikatakan berhasil dalam melaksanakan pembangunan. Nilai yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa kondisi ekonomi yang tinggi dapat dilihat dari suprastruktur, gaya hidup masyarakat, kehidupan sehari-hari masyarakatnya, dan masyarakat secara fisik. Bila faktor suprastrukturnya bagus, mulai dari jalan dan fasilitas umum, gaya hidup yang mewah, pakaian masyarakatnya yang bagus nan modern, maka dapat diperkirakan bahwa daerah tersebut memiliki kondisi ekonomi yang tinggi dan stabil. Perkiraan tersebut sepertinya tidak berlaku bagi wilayah Kalimantan, terutama wilayah-wilayah yang jauh ke pedalaman. Luas wilayah sebuah kabupaten di Kalimantan sama luasnya dengan sebuah provinsi di Jawa. Bukan untuk membandingkan antara Jawa dan Kalimantan namun terkadang perbandingan antar dua wilayah dirasa perlu untuk melihat persamaan dan perbedaan sehingga dapat dijadikan sebagai pemacu untuk menuju perbaikan daerah. Di Jawa, kita akan mudah menilai sebuah keluarga apakah tingkat ekonominya tinggi atau tidak dari kondisi rumah dan cara berpakaian. Namun kembali, penilaian tersebut tidak akan berlaku di Kalimantan, terutama yang di pedalaman-pedalaman. Kita tidak dapat dengan mudah mengatakan bahwa Kalimantan tertinggal dari Jawa dari segi ekonomi. Kalimantan sudah jauh dari kata primitif, terlihat dari mudahnya kita untuk menemukan televisi dan TV Kabel, telepon genggam, komputer jinjing, kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, dan lagu-lagu masa kini di pelosok-pelosok Kalimantan. Hal ini terjadi karena perkembangan tekhnologi mendukung mereka dalam mangatasi keterbatasan yang disebabkan oleh alam, misalnya orang-orang Dayak harus memiliki kendaraan pribadi untuk menjual hasil panen mereka. Kendaraan yang dimiliki pun harus menunjang fasilitas infrastruktur yang ada, jalan yang rusak dan berdebu, medan jalan yang terjal berbatu karena belum tersentuh Dinas Pekerjaan Umum, dan belum tersedianya alat transportasi umum. Maka jangan heran bila kita akan banyak melihat mobil-mobil sport yang harganya mahal berseliweran di Kalimantan, bahkan mobil-mobil tersebut pun berkeliaran bebas di desa-desa pelosok di tanah Kalimantan. Begitu pula dengan perkembangan teknologi komunikasi, orang-orang Dayak yang sering dianggap primitif bahkan telah mengenal komunikasi. Meskipun Telkom, sebagai perwakilan pemerintah dalam hal komunikasi, belum masuk secara merata di Kalimantan, orang-orang Dayak tidak dengan mudah mengangkat bendera putih dalam menunjang perkomunikasian mereka. Sebagian besar orang Dayak telah mengenal telepon genggam, meskipun sinyal yang didapat lebih sering sinyal dari negara tetangga. Kedua contoh ini menandakan bahwa orang Dayak tidak menutup mata dalam hal kemajuan tekhnologi. Melek-nya orang Dayak dalam hal kemajuan tekhnologi ini sebagai bentuk pertahanan diri orang Dayak karena minimnya perhatian pemerintah. Perputaran uang di Kalimantan tinggi karena harga-harga yang dipatok untuk semua barang jauh lebih mahal daripada di Jawa. Perputaran uang yang tinggi ini disebabkan oleh adanya kemampuan membeli dari orang Dayak sendiri. Orang Kalimantan telah terbiasa dengan harga tinggi yang jauh dari harga di Jawa. Bila orang-orang di Jawa akan protes dan demonstrasi besar-besaran untuk kenaikan harga BBM dari harga 4500/liter menjadi 5500/liter, orang-orang pedalaman Kalimantan sudah terbiasa dengan harga BBM yang mahal, meskipun orang Kalimantan ini minim terhadap pengetahuan tentang kehidupan orang Jawa termasuk pendapatannya. Mahalnya harga BBM dapat ditemui di Desa Tamong, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, harga satu liter bensin sebesar 13000, kemudian di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Kutai Barat kita harus menyisihkan uang 20000 untuk mendapatkan satu liter bensin. Tingginya harga BBM di Kalimantan ini merata di pedalaman-pedalaman Kalimantan, meskipun di daerah kota, misalnya ibukota provinsi dan ibukota kabupaten, kita bisa mendapat harga BBM yang sama dengan yang di Jawa. Perbedaan harga BBM ini bisa disebabkan oleh kurang tersedianya SPBU, dan harga BBM yang tinggi ini dikeluarkan oleh pedagang-pedagang BBM eceran. Bukan hanya harga BBM, harga sembako dan sayur-sayuran pun jauh lebih mahal lagi daripada di Jawa. Untuk harga kacang panjang, di Jawa kita dapat satu kilo kacang panjang dengan harga 4000, namun di Kalimantan tepatnya di Kecamatan Bonti Kabupaten Sanggau, harga kacang panjang tiga kali lipat lebih mahal yakni 12000 untuk per kilo kacang panjang. Kemampuan membeli barang-barang dengan harga yang tinggi ini menunjukan pendapatan warga yang tinggi pula. Pendapatan orang Dayak ini bersumber dari hasil panen dan hasil tambang, karena sektor terbesar di Kalimantan dalam hal sumber pendapatan adalah dari sektor pertanian dan pertambangan. Untuk sektor pertanian dan perkebunan, Kalimantan memang mempunyai lahan yang sangat luas, dan lahan-lahan tersebut adalah tanah adat, maka lahan bisa digunakan oleh siapa pun bahkan oleh pendatang, yang penting telah mendapat persetujuan dari dewan adat. Setiap orang bebas mengolah lahan seluas apapun yang penting mereka mau berladang. Setiap rumah di Kalimantan setidaknya memiliki lahan untuk berladang yang tidak sempit. Gejolak sosial yang mempengaruhi kondisi ekonomi terjadi di Kabupaten Kapuas Hulu. Warga pribumi yang tadinya mempunyai lahan sendiri untuk berladang beralih menjadi buruh perusahaan yang beroperasi di sebagian daerah Kapuas Hulu. Lahan-lahan milik pribadi atau lahan adat disewa oleh perusahaan untuk dikelola menjadi perkebunan kelapa sawit. Dengan adanya diplomasi yang bagus dari pihak perusahaan, akhirnya lahan-lahan tersebut berubah menjadi perkebunan sawit, dengan bagi hasil 80% - 20%, tentunya 20% untuk warga pribumi. 20% ini tentunya jauh lebih kecil dari penghasilan awal orang pribumi bila berladang sendiri. Namun karena sudah membuat kontrak terlebih dahulu dengan pihak perusahaan, maka mau tidak mau orang pribumi mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan yang tak ikut berkurang. Menjadi buruh perusahaan sawit akhirnya menjadi pilihan untuk mendapat penghasilan tambahan. Ironis memang, semacam terjajah di negeri sendiri. Gejolak tersebut tidak berlaku di sebagian besar wilayah Kalimantan yang setiap warganya masih mau mengelola lahannya sendiri. Misalnya Ibu Yusvita, warga Desa Pala Pasang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, memiliki seribu pohon karet, ladang sahang, terung, cacao. Dapat dibayangkan uang yang dihasilkan dari hasil panen tersebut yang tidak sedikit meskipun telah dipotong oleh biaya perawatan dan biaya transportasi untuk menjual hasil panen tersebut. Untuk pertambangan pun tidak kalah pamor, Kalimantan Selatan tepatnya Banjarmasin adalah penghasil batubara terbesar di Indonesia, Martapura yang juga di Kalimantan Selatan adalah penghasil intan terbesar di Indonesia. Bukan hanya di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Timur pun berperan untuk menunjang pendapatan orang Kalimantan dari hasil tambang, terutama emas. Sepanjang Sungai Kapuas, Sungai Sekayam, Sungai Mahakam, dan Sungai Barito terdapat banyak pendulang-pendulang emas tradisional yang berpenghasilan tidak sedikit. Seperti halnya di Desa Konut, Kecamatan Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, setiap hari minimal menghasilkan 0,5 gram emas. Dapat dibayangkan bila menghasilkan 0,5 gram emas seharga Rp 250.000 per hari, pendulang emas tradisional di Desa Konut tersebut berpenghasilan Rp 75.000.000 sebulan. Jauh lebih tinggi daripada penghasilan seorang Kepala Dinas. Bantaran sungai Boh di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, rata-rata penghasilan mendulang emas warga sekitar sebesar 2-3 gram per hari, kembali bila dijumlahkan selama satu bulan akan jauh lebih tinggi dari rata-rata penghasilan di pegawai negeri di Jawa. Bahkan di Baru Lombak, salah satu desa di Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, per harinya bisa menghasilkan 70-80 gram dan capaian tertinggi di Desa Baru Lombak ini mencapai 200 gram dalam satu hari. Namun yang dapat disayangkan dari pengelolaan pertambangan yang melimpah ini adalah dampak lingkungan dan dampak sosial. Selain sektor pertanian dan pertambangan, sebagian orang Kalimantan pun menggantungkan hidupnya pada kekayaan air. Sungai dan pantai menjadi sumber kehidupan di beberapa daerah, tentunya dengan hasil yang tidak sedikit. Misalnya di Pulau Majang, di tengah Danau Sentarum, Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Penghasilan tangkapan bisa mencapai 50000 per harinya, belum ditambah dengan hasil panen keramba yang banyak dimiliki oleh warga sekitar. Keramba-keramba tersebut berisi ikan toman (nama lokal), panen setahun sekali dengan hasil setiap panen mencapai seribu sampai dua ribu ekor. Satu ekor ikan toman beratnya sampai 2-3 kg, dan harga per kilonya mencapai 18000. Bila dibulatkan setiap panen menghasilkan seribu ekor ikan toman dengan berat 2 kg, maka penghasilan setiap panen sebesar 36 juta. Kekayaan hasil air pun terdapat di Desa Temajuk dan Pulau Lemukutan di Kabupaten Sambas Provinsi Kalimantan Barat. Untuk di daerah lain di Kalimantan, hasil sungai digunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Kemungkinan orang Kalimantan untuk kelaparan sangat kecil, karena kekayaan sumber daya alam termasuk hasil sungai dan laut. Kalimantan adalah pulau yang ramah pula bagi para pendatang, selain karena faktor transmigrasi, Kalimantan juga sekarang sudah mulai didatangi oleh para pendatang. Dan pekerjaan bagi para pendatang hampir merata di setiap wilayah di Kalimantan. Biasanya orang-orang Jawa dan China di sebagian besar wilayah Kalimantan bekerja sebagai pedagang. Lain halnya di Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan, orang Jawa menjadi penggagas bibit karet bagi pribumi yang mempunyai lahan karet, orang Jawa di sana lebih cenderung menjadi orang yang memasarkan hasil karet ke kota. Dan orang timur seperti orang Flores berprofesi sebagai pencari gaharu di Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur. Pendapatan yang tinggi ini tidak dicerminkan dalam kondisi fisik masyarakat Dayak, dalam artian kondisi rumah dan masyarakatnya sendiri secara fisik. Kembali kita bandingkan dengan di Jawa, orang dengan penghasilan sebesar tadi atau paling tidak mendekati dapat dipastikan mempunyai rumah yang mewah dengan gaya berpakaian yang perlente. Tentu sangat berbanding terbalik dengan kondisi orang Dayak yang disebutkan di atas. Kedua sisi ini dapat dilihat dari skala prioritas dalam penggunaan uang, serta perbedaan pandangan tentang bentuk suatu kenyamanan. Orang Kalimantan sendiri, khususnya orang Dayak, bila mendapatkan uang hasil panen atau tambang akan cenderung digunakan untuk kehidupan saat itu juga, tanpa perencanaan ke depan. Misalnya bila saat itu ada kebutuhan untuk mempunyai sepeda motor, maka akan dibeli pada saat itu juga. Juga dengan adanya perayaan pesta yang besar-besaran sebagai bentuk syukur atas hasil panen atau tambang tersebut. Biasanya dalam perayaan pesta tersebut ada acara memotong dan memakan babi rame-rame, meminum minuman keras. Acara meminum minuman keras tersebut adalah bagian dari tradisi orang Dayak yang sampai saat ini masih tetap berlangsung. Dari kebiasaan-kebiasaan tersebut terlihat bahwa orang Dayak belum memiliki perencanaan jangka panjang dalam penggunaan uang, tidak terbiasa menabung, dan uang yang dihasilkan adalah untuk memenuhi kebutuhan sesaat. Berbeda dengan masyarakat di Jawa yang justru cenderung lebih mementingkan kehidupan jangka panjang dan memprioritaskan pada kenyamanan hidup dan simpanan uang. Jelas berdeba jauh dengan orang Kalimantan. Namun ada fenomena unik yang terjadi di Desa Pala Pasang Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat. Menurut Ibu Yusvita, warga desa Pala Pasang, ada kebiasaan warga untuk menabung hasil panen tersebut ke CU . Dan besarnya uang yang ditabung di CU ini menunjukan strata sosial warga desa. Dengan ladang dan hasil panen yang disimpan di CU tersebut, Ibu Yusvita tidak berniat untuk merubah gaya hidup dan kehidupan keluarganya. Ibu Yusvita tidak menginginkan untuk merenovasi rumahnya menjadi lebih bagus, membelikan anak-anaknya baju yang lebih layak dan lebih bagus, membuat kamar mandi di rumah yang nyaman, memakan makanan enak, dan membelikan anaknya mainan-mainan. Bila di sebagian besar di Kalimantan Barat lebih memilih CU untuk menyimpan uang, berbeda dengan Hulu Sungai Tengah. Warga lebih memilih ikut arisan untuk menyimpan uang. Arisan tersebut berskala desa yang diikuti oleh sebagian warga. Misalnya di Desa Paramasan Atas, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, setiap anggota arisan harus menyisihkan uang 200 ribu per minggu dan bila menang arisan akan mendapatkan uang sebesar 18 juta. Arisan akan dibuka setiap satu minggu sekali. Dengan sedikit gambaran di atas, kita tidak dapat menilai kemampuan ekonomi masyarakat di Kalimantan dilihat dari rumah yang bagus, penampilan yang perlente, fasilitas umum yang mumpuni, dan gaya hidup yang mewah. Dengan begitu, Kalimantan menjadi pulau di Indonesia yang luar biasa. Adil katalino, bacuramin kasaruga, basengat kajubata!

Kesan dan pesan yang harus ditulis dlm 3-5 halaman :D

Kalimantan adalah pulau terluas di Indonesia dengan segala macam keragaman budaya, alam, dan manusianya. Keragaman tersebut awalnya menimbulkan kemisteriusan yang teramat sangat dalam benak saya. Namun setelah mengikuti Ekspedisi Khatulistiwa 2012 yang digagas oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus), sedikit dari kemisteriusan itu pudar. Mengingat cerita awal keikutsertaan di Tim Ekspedisi Khatulistiwa membuat hati saya tergelitik. Bagaimana tidak, persiapan untuk berangkat ekspedisi sangat teramat minim. Perlengkapan dalam jumlah banyak yang harus dibawa hanya disiapkan 12 jam sebelum berangkat, izin orang tua dan keluarga saya dapatkan dalam perjalanan menuju Pusdik Passus Batujajar, dua mata kuliah yang diambil (tepatnya ngulang) saya abaikan (khusus untuk ini ada pembenaran :p), dan tentunya skripsi yang baru dirintis pun harus diistirahatkan sejenak. Semua hal yang menggelitik itu saya relakan dengan ikhlas karena satu hal, yaitu mimpi, mimpi untuk jauh lebih mengenal pulau yang menurut saya paling misterius, Kalimantan! Bila merunut dari semua mimpi yang saya inginkan untuk masa depan, Kalimantan memang berada di posisi atas meskipun bukan yang pertama. Besar keinginan saya untuk tinggal jauh di pedalaman Kalimantan dan bercengkrama dengan orang-orang suku asli Dayak yang anak-anaknya tak punya sepatu dan tak mengenal tekhnologi. Pikir saya dulu, tinggal 3,5 bulan di Kalimantan akan jadi kick off yang sempurna untuk mewujudkan keinginan saya. Ternyata apa yang saya bayangkan tentang Kalimantan dan segala ke-primitif-annya tidak saya temukan seutuhnya. Di Ekspedisi Khatulistiwa, saya bergabung dengan Tim Sub Korwil 02/Sanggau. Sanggau adalah sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang luasnya sama dengan provinsi Jawa Barat. Kabupaten Sanggau berbatasan langsung dengan Malaysia. Kondisi masyarakat perbatasan pun telah jauh lebih kompleks dari apa yang saya bayangkan dulu. Berbicara Kalimantan tidak akan pernah cukup hanya dengan sebuah tulisan berhalaman 3 atau bahkan 5 sekalipun, untuk itu tulisan ini didedikasikan untuk penggalan-penggalan cerita saya selama mengikuti Ekspedisi Khatulistiwa 2012, khususnya bersama dengan Tim Sub Korwil 02/Sanggau. Kebersamaan saya dengan Tim Sanggau dimulai ketika seluruh peserta ekspedisi, khususnya mahasiswa, dibagi-bagi korwil oleh Pakor Ahli. Dan ternyata Sanggau adalah pilihan terbaik dari Alloh SWT untuk saya. Senangnya bukan main karena pada awalnya penelitian yang akan saya teliti lebih lanjut adalah tentang nasionalisme di wilayah perbatasan, tentu Entikong yang akan menjadi pusat penelitian saya . Bersama Tim Sanggau, saya lebih jauh mengenal tentara. Yak! Tentara Nasional Indonesia, yang akhirnya saya menyadari bahwa saya teramat telat mengenal tentara. Namun untuk suatu pembenaran, lebih baik telat daripada tidak sama sekali :p.Hampir empat bulan bersama-sama dengan tentara membuat rasa keoptimisan saya terhadap Indonesia menjulang tinggi. Benar! Saya menjadi jauh lebih optimis dengan Indonesia, lebih menghargai simbol-simbol negara, lebih merasa khidmat bila mendengarkan lagu Indonesia Raya, lebih merasa penting untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional, dan tentu saja lebih merasa aman dengan kedaulatan negeri ini karena mempunyai tentara-tentara luar biasa yang siap mati untuk NKRI. Ini bukan sesuatu yang saya lebih-lebihkan karena itu semua pembelajaran dan hikmah bagi saya selama mengenal tentara. Untuk sekedar informasi, sebelum mengikuti ekspedisi ini, sama sekali saya tidak mengetahui tentara itu untuk apa bila keadaan negara kita aman tanpa perang; sama sekali tidak tahu bahwa tentara itu ada tamtama, bintara, dan perwira dengan segala pangkatnya. Menjadi sebuah kebanggaan bagi saya ketika di jalan raya bertemu tentara dengan dua balok merah di lengan bajunya, dan dalam hati saya bilang “itu pangkatnya pratu, prajurit satu yang telah naik pangkat dari prada”. Banyak pengalaman yang luar biasa yang saya dapatkan selama menjadi Tim Ekspedisi Sub Korwil 02/Sanggau. Melihat langsung seperti apa patok perbatasan yang katanya ajaib bisa bergeser-geser; menelusuri sungai untuk memasuki desa di salah salah satu kecamatan di Sanggau; meminum tuak, minuman keras tradisional; mandi dan berenang di sungai dengan arusnya yang kencang; melihat pedagi, tempat ritual warga Dayak di Sanggau, meskipun sekarang hanya sebatas simbol; menempuh perjalanan 6 jam menuju Desa Pala Pasang, Kecamatan Entikong melewati sungai yang terkadang kita harus mendorong perahu supaya jalan karena air sungai surut; dijemput oleh segerombolan warga desa karena kesenangan mereka yang luar biasa kedatangan tim kami; melihat senyum bangga dari seorang tukang ojek di Kabupaten Sekadau sambil berseru sama temannya “jemput orang Jakarta”; tersengat lebah ketika menuju tempat penelitian yang sakitnya bukan main; melihat keoptimisan salah satu warga Entikong yang akan tetap menjunjung tinggi NKRI meskipun di Entikong sedikit ketergantungan dengan negara tetangga; melihat kekayaan yang teramat sangat dari Kalimantan; melihat jahatnya para pendatang yang meraup kekayaan Kalimantan dan menyebabkan kerusakan alam yang begitu parah; dan masih banyak pengalaman-pengalaman lain yang luar biasanya super duper. Bagi saya, bahagianya mengikuti ekspedisi ini setara dengan wisuda bulan Agustus ini, kembali pembenaran untuk menenangkan jiwa :p. Mendengar isu yang berkembang, tahun 2013 akan dilaksanakan kembali Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi. Wowww! Kata itu yang pertama saya keluarkan ketika mendengarnya. Usaha yang sangat bagus untuk lebih mengenal dan menemukan keluarbiasaan lain di Indonesia. Saya sangat berharap ekspedisi tahun depan bisa lebih diikuti oleh banyaknya mahasiswa bahkan pelajar, karena kembali saya katakan, hidup dengan tentara akan menularkan rasa optimis dan nasionalisme terhadap Indonesia. Bagi kalian yang ingin merasakan bagaimana bulu kuduk berdiri dan jantung berdegup kencang ketika mendengar Indonesia Raya, salah satunya ikuti Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi dan ambilah banyak pelajaran dari tentara dan bersiaplah untuk merasa amat bangga dengan Indonesia!

Kamis, 24 November 2011

Gerwani II (Keganjilan pemberitaan tentang gerwani)

Beberapa keganjilan penting diperhatikan berkaitan dengan tuduhan-tuduhan akan keterlibatan Gerwani. Pertama, tak satu pun dari perempuan-perempuan yang member kesaksian dan ditahan pernah dibawa ke pengadilan untuk membuktikan keterlibatan Gerwani dalam peristiwa penyiksaan dan pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya. Dari kesaksian para pimpinan dan anggota Gerwani yang dipenjarakan di LP Bukit Duri, Jakarta, diperoleh cerita bahwa perempuan-perempuan muda yang kesaksiannya dikutip di berbagai media massa, seperti Djamilah, Sainah, dan Sakinah, bukanlah anggota Gerwani dan tidak pernah mengikuti kegiatan pelatihan sukarelawati di Lubang Buaya. Beberapa dari mereka adalah pekerja seks di daerah Senen yang ditangkap, disiksa habis-habisan, kemudian dipaksa mengakui skenario cerita yang telah dibuat pihak militer. Baru di penjaralah para pimpinan dan anggota Gerwani bertemu dengan perempuan-perempuan muda ini, dan mengetahui sumber kisah-kisah yang disebarkan di media massa tentang mereka. Bahkan, “Tari Harum Bunga” itu pun ”diciptakan” di LP Bukit Duri oleh aparat keamanan yang meminta perempuanperempuan tersebut menari-nari sambil berteriak-teriak untuk kemudian diabadikan dengan kamera. Kedua, di tengah pemberitaan gencar tentang tindakan kejam dan biadab yang dilakukan aktivis-aktivis Gerwani terhadap para jenderal terdapat pula pemberitaan lengkap tentang proses terbunuhnya paling tidak tiga orang jenderal, yaitu Achmad Yani, D.I. Pandjaitan, dan M.T. Harjono di harian-harian yang dikelola militer. Harian-harian ini menggambarkan bahwa ketiga jenderal ini segera tewas di kediaman masing-masing akibat tembakan beruntun yang dilancarkan anggota pasukan Pasukan Pengawal Presiden Resimen Tjakrabirawa di bawah komando operasional Letnan Satu Doel Arief.35 Selain itu, pada edisi 16 November 1965, harian Angkatan Bersendjata memuat kesaksian seseorang yang bernama Suparno yang menyatakan bahwa lima dari tujuh perwira korban pembunuhan tewas oleh tembakan, sedangkan dua lainnya – Mayjen. Suprapto dan Letnan Satu Pierre Tendean – disiksa sebatas dihantam dengan popor senapan. Keganjilan ketiga, yang tidak kalah pentingnya, adalah hasil otopsi terhadap masing-masing jenazah para korban yang tidak menyatakan adanya tanda-tanda penyiksaan seperti yang diungkapkan dalam pemberitaan di surat kabar. Luka-luka dan cedera yang bukan akibat tembakan tidak menunjukkan penganiayaan dengan silet atau pisau lipat, melainkan akibat tusukan bayonet, kemungkinan hantaman popor senjata, pengikatan yang terlalu erat, atau benturan dengan benda-benda tumpul

Gerwani I (Beberapa pemberitaan tentang gerwani penghujung 1965)

Pemberitaan-pemberitaan ini saya kutip dari Mendengarkan Suara Perempuan Korban Peristiwa 1965 yang dikeluarkan oleh Komnas Perempuan. Silakan dibaca ini terlebih dahulu sebelum ditulis lebih banyak lagi tentang Gerwani :).

Angkatan Bersendjata, 11 Oktober 1965:
... sukarelawan-sukarelawan Gerwani telah bermain-main dengan para Jenderal, dengan menggosok gosokkan kemaluan mereka ke kemaluan sendiri.

Duta Masjarakat, 12 Oktober 1965
Bahkan menurut sumber yang dapat dipercaya, orang-orang Gerwani menari-nari telanjang di depan korban-korban mereka, tingkah laku mereka mengingatkan kita pada upacara kanibalisme yang dilakukan suku-suku primitif berabad-abad yang lalu. Marilah kita serahkan pada kaum wanita untuk mengadili moral kewanitaan orang-orang Gerwani yang bermoral bejat lebih buruk dari binatang.

Angkatan Bersendjata, 14 Oktober 1965
(tanggal 12 Oktober 1965 kantor-kantor Gerwani dibakar demonstran) Dari penggeledahan di semua kantor Gerwani diperoleh sejumlah dokumen Gerwani yang membuktikan bahwa Gerwani merencanakan
untuk melakukan tindakan teror menyabot perekonomian, perdagangan dan produksi.

Sinar Harapan, 2 November 1965
Di Karang Asem, Jawa Tengah, sumber-sumber ABRI melaporkan 97 orang telah dibunuh orang Komunis. Menurut sebuah keterangan yang disebarkan kepada rakyat Karang Asem dengan bantuan Pemuda Rakyat dan Gerwani, para pengacau PKI menyerukan kata-kata suci Allahu Akbar, lalu melempar debu ke mata penduduk desa. Tetapi cara-cara licik dan primitif ini akhirnya terbuka kedoknya, karena gerombolan PKI itu menggunakan cara-cara yang sangat mudah dikenali, mereka tidak berpakaian selembar pun.

Berita Yudha, 4 November 1965
Dokumen-dokumen membuktikan adanya gerombolan Kucing Hitam yang mendapat tugas membakar rumah orang-orang non-komunis, juga hutan-hutan dan merusak berbagai instalasi vital. Bekerja sama dengan mereka adalah gerombolan Kancing Hitam yang terdiri dari Gerwani berparas cantik yang telah melacurkan diri dan mendekati pimpinanpimpinan partai lain untuk membujuk mereka agar mendukung program PKI.

Sinar Harapan, 8 Desember 1965
Saina, 17 tahun, anggota Gerwani, telah beberapa kali disuntik selama latihan enam setengah bulan di Lubang Buaya. Setelah diinjeksi itu ia merasa nafsu syahwatnya menjadi liar. Menurut Kepala Tim Interogasi Pepelrada Jabar, Mayor A Danamihardjo SH, selama enam setengah bulan latihan, Saina harus bersaing dengan 199 orang anggota Gerwani lainnya dalam melayani 400 orang laki-laki, yang juga dilatih di sana dengan harapan bisa merebut “Hadiah Kuda Emas” yang pernah dijanjikan DN Aidit kepada mereka ... Aidit pernah pidato di barak latihan bahwa sukarelawan PKI tidak perlu merasa terkekang oleh aturan-aturan agama, sebaliknya mereka melakukan hubungan jenis satu sama lain secara bebas


Angkatan Bersendjata, 13 Desember 1965
Saina ikut ambil bagian dalam “Tarian Harum Bunga” yang setiap hari dipertunjukkan dengan telanjang bulat. Laki-laki 400 orang yang ada menonton 200 orang perempuan, kemudian dilanjutkan dengan hubungan kelamin secara bebas, yang kadang-kadang seorang perempuan harus melayani 3 atau 4 orang laki-laki.

Angkatan Bersendjata, 15 Desember 1965
Seorang perempuan mengaku bernama Sakinah membeberkan kepada wartawan, “Selain dari melayani seks anggota-anggota Pemuda Rakyat, mereka diajar juga tentang cara memotong kemaluan kucing.
Kemudian mereka mendapat tugas memotong dua orang tentara dari Divisi Diponegoro dan dua orang pedagang dari Tegal, yang mula-mula mereka pikat dengan berpura-pura sebagai pelacur.

Minggu, 10 April 2011

looser dan winner

Ternyata menjadi looser dalam sebuah pertarungan itu lebih berat daripada menjadi winners. Menjadi pemenang tugasnya hanya satu, menunjukan kalau dia memang layak menang. Tapi lain cerita kalo dalam proses menunjukan itu banyak batu yang sengaja ditujukan untuknya. Kenapa looser lebih berat? Karena bagaimana akhirnya si looser ini bisa menerima kekalahan itu dan menerima kemenangan orang lain. Dan mengerti bahwa Alloh memang memilih pemenang itu daripadanya. Itu takdir. Dan seyogyanya takdir itu diterima dengan ikhlas dan bagaimana akhirnya seorang looser itu “menerima dan mendukung” takdir itu. Yang masih membangkang dan tidak bisa menerima kekalahan dan menganggap si looser ini lebih baik daripada si winners, maka itu berarti dia telah menghianati takdir Alloh :D. hhhehehe

Akar masalah itu adalah komunikasi!


Ada banyak hal yang ingin saya tulis sekarang. KOMUNIKASI. Akar semua masalah yang ada. Diawali dengan buruknya komunikasi, salahnya kounikasi, jarangnya komunikasi ITU SEMUA MENYEBABKAN MASALAH. Teknologi yang canggih sekarang tidak ikut mendukung saya akhir-akhir ini. Jaringan provider yang selalu error, ngirim kapan keterima kapan. Nelpon yang selalu tut tut tut gangerti nyambung atau enggak. Ditambah dengan alat yang digunakan untuk menunjang provider itu. Screen yang sekarang sudah tidak bisa bersahabat. Gamau disentuh. Ga disentuh, nyentuh sendiri. Mati sendiri. Nyala sendiri. Ketika nyala, dan ketika provider itu bener, alatnya yang ga bener. Pesan dan panggilan masuk semua. Tapi apa daya, alat itu tidak bisa digunakan. Tombol untuk menerima panggilan tidak berfungsi. Tombol untuk membuka kunci saja tidak bisa dipakai. Hanya untuk sekedar melihat pesan yang masuk. Itu tidak bisa. Tidak bisa semua. Ternyata gangguan itu menyebabkan kesalahan-kesalahan maksud, kecurigaan, durhaka terhadap orang tua yang tanpa kabar, dan hal-hal negative lainnnya.

Minggu, 27 Maret 2011

Mari Berbicara Kejahatan dan Moral


Sejak tahun 1998 Indonesia dilanda krisis ekonomi yang akhirnya berimbas secara akut pada bangunan sosio-kultural dan politik kebangsaan. Krisis ekonomi yang bermula dari krisis moneter ini sebenarnya bukan hanya melanda Indonesia, tetapi sempat menjadi fenomena regional seperti dialami Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia. Namun, khusus dalam konteks Indonesia ternyata gejala itu berlarut-larut, membawa konsekuensi sosio-kultural dan ekonomi politik sangat parah. Bahkan jauh lebih parah dibanding Negara-negara tetangga yang mengalami peristiwa serupa.
Fakta ini akhirnya menyadarkan publik betapa bangunan ekonomi Indonesia yang sempat dibanggakan sebagai wujud keberhasilan pembangunan ternyata hanya berdiri di atas pondasi yang sangat rapuh. Pasalnya, pondasi ekonomi Orde Baru ternyata keropos akibat digerogoti rayap-rayap kolusi, korupsi, dan nepotisme. Bangunan sosio-ekonomi yang dari luar tampak kokoh akhirnya roboh diporak-porandakan angin krisis ekonomi, topan ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah, serta badai euphoria politik yang tiada kunjung akhir. Bukan itu saja, bangunan kebangsaan akhirnya dibakar api konflik bernuansa komunal-primordial yang terus dikipasi isu-isu kejahatan trans-nasional dan terorisme.
Realitas sosial selalu memperlihatkan keragaman, baik pada level individu dalam sebuah komunitas maupun pada level makro antar komunitas dalam sebuah masyarakat bangsa apalagi antarbangsa. Perbedaan dan atau keragaman semacam itu merupakan merupakan sebuah kewajaran atau bahkan keniscayaan yang dalam terminologi Islam disebut Sunnatulloh atau dalam konteks umum dinamakan hukum alam. Sebab, setiap individu apalagi setiap komunitas masing-masing memiliki spesifikasi sejarah kehidupan, mempunyai karakter kejiwaa, serta meyakini nilai-nilai sosiokultural dan keragaman tertentu pula. Semua fakrot kolektif tadi akhirnya memandu pemikiran dan perilaku individu dan atau komunitas bersangkutan. Status kekayaan, usia, peran sosial menurut gender, keanggotaan individu dalam sebuah kelompok tertentu, ikut pula menggali jurang perbedaan antar individu maupun antar komunitas. Berbagai perbedaan tadi acapkali menjadi asal muasal faktor potensi bagi munculnya konflik, termasuk kejahatan yang semakin sini semakin marak. Kejahatan itu sendiri adalah perbuatan anti sosial yang melanggar hukum atau undang-undang pada suatu waktu tertentu dan yang dilakukan dengan sengaja, merugikan ketertiban umum dan yang dapat dihukum oleh negara (Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan terhadap Korban Kekerasan, Refika Sditama, Bandung, 2001).
Semakin merosotnya ekonomi yang dialami negara ini berbanding lurus dengan moral bangsa. Moral bangsa yang sekarang sedang hangat diperbincangkan orang ini sudah jauh merosot, bahkan sebagian orang berkata bahwa bangsa ini sudah tidak memiliki moral. Meosotnya moral bangsa ini tercermin dari tingkat kejahatan di Indonesia yang terus melonjak naik. Sudah tidak heran dan tidak asing lagi setiap hari kita mendengar tindak kejahatan di berita, mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, korupsi, dan lain sebagainya. Patroli, TKP, Sidik Kasus, dan Sergap mungkin hanya sebagian kecil acara yang mengetengahkan topik kejahatan sebagai menu utamanya. Beberapa dari mereka bahkan sudah menjadi santapan sehari - hari sebagian pemirsa televisi di negeri ini. Berita dan informasi kriminal ini tidak hanya dapat dengan mudah kita temukan di media - media elektronik tetapi juga dapat kita temukan dalam media - media cetak. Tetapi, tidakkah pernah terbayang di benak kita betapa banyaknya kasus kejahatan yang terjadi di sekitar kita sehingga setiap acara berita kriminal baik di media elektronik maupun media cetak tersebut mampu menyajikan konten yang berbeda dari rival - rivalnya dari hari ke hari.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa itu bisa terjadi? Itu adalah tingkat kejahatan bangsa ini yang terus meningkat dan tidak adanya kemerosotan akibat dari rusaknya moral bangsa. Ada beberapa sebab yang mungkin menjadi penyebab rusaknya moral bangsa Indonesia. Pertama, pengaruh budaya luar. Ini adalah hal yang mungkin menjadi penyebab rusaknya moral bangsa Indonesia, tak dapat dipungkiri pengaruh budaya barat merusak moral bangsa ini. Sebagai contoh free sex atau pergaulan bebas. Kedua kurangnya nilai agama di negara ini. Ini juga bisa menjadi sebab rusaknya bangsa Indonesia. Jika agama yang kita miliki kuat maka tentu saja kita akan takut berbuat dosa sehingga tidak akan ada kejahatan atau paling tidak kejahatan akan sangat minim di negeri ini. Contohya saja jika para pejabat negeri ini memiliki landasan agama yang baik, maka apa berani dia memakan uang rakyat? Keitag, mungkin salahnya sistem pendidikan Indonesia. Ini juga bisa menjadi penyebab rusaknya moral di Indonesia. Sebagaimana anda tahu anak-anak menghabiskan banyak waktunya di dalam sekolah. Sayangnya sekolah sekarang hanya identik untuk mencari ilmu duniawi saja dan jarang ada yang sekolah yang juga mengajarkan aspek moral, jikalau ada porsinya sangat minim. Ketiga hal di atas mungkin hanya penyebab yang dasar saja.
Ada beberapa indikator yang digunakan untuk melihat kualitas moral kehidupan suatu bangsa. Menurut Thomas Lickona (1992) terdapat sepuluh tanda dari perilaku manusia yang menunjukkan arah kehancuran suatu bangsa yaitu: meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, ketidakjujuran yang membudaya, semakin tingginya rasa tidak hormat kepada orangtua, guru, dan figur pemimpin, pengaruh peer group terhadap tindakan kekerasan, meningkatnya kecurigaan dan kebencian, penggunaan bahasa yang memburuk, penurunan etos kerja, menurunnya rasa tanggungjawab individu dan warga negara, meningginya perilaku merusak diri dan semakin kaburnya pedoman moral.
Apa yang disampaikan oleh Lickona tentang ciri penurunan moral yang berpotensi menghancurkan bangsa tergambar melalui wajah media kita. Lalu bagaimana agar bangsa ini mampu bertahan bahkan menjadi maju dan berkembang? Ada tiga musuh bangsa yang harus berpotensi menghancurkan bangsa yaitu kemiskinan, kebodohan, dan kebobrokan moral. Ketiga musuh tersebut harus secara simultan dan serius diperangi. Kemiskinan dapat diberantas dengan pembangunan ekonomi agar kesejahteraan dicapai oleh rakyat secara luas. Kekayaan alam Indonesia sangat potensial untuk dikelola dan dimanfaatkan agar tak ada lagi rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kebodohan diperangi dengan program pendidikan bagi semua kalangan baik secara formal maupun informal.
Kebobrokan moral harus diberantas agar individu-individu terhindar dari perilaku yang merugikan diri, orang lain, dan masyarakat. Moralitas berkaitan dengan aktivitas manusia yang dipandang baik atau tindakan yang benar, adil, dan wajar. Karena itu masyarakat atau bangsa yang bermoral akan senantiasa menjunjung tinggi dan mengutamakan nilai-nilai moral. Pemerintah telah membuat berbagai program dan rencana untuk membuat bangsa ini pulih dari krisis. Berbagai strategi dan pendekatan untuk pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat banyak dilakukan. Hal tersebut bahkan seolah menjadi agenda utama. Demikian juga upaya untuk meningkatkan taraf pendidikan banyak program yang disusun. Wajib belajar adalah salah satu upaya untuk membuat bangsa ini terbebas dari belenggu kebodohan.
Untuk kemajuan dan peningkatan kesejahteraan suatu bangsa dibutuhkan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat kaya baik di luar maupun di perut bumi, di daratan dan di lautan. Namun sumber daya alam saja tidak cukup. Hutan di negara kita terkenal sangat luas dan kaya keragamannya namun dengan adanya pembalakan hutan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab membuat hutan kita rusak dan tidak termanfaatkan untuk kesejahteraan bersama. Demikian juga dengan korupsi yang menggerogoti berbagi instansi dan perusahaan pada akhirnya akan menghancurkan sendi kehidupan bangsa. Sebagaimana yang disampaikan Lickona, upaya untuk membuat sebuah bangsa maju dan terhindar dari kehancuran ditentukan oleh kualitas moralnya. Di saat menghangatnya pencalonan presiden dan wakil presiden, wacana pembangunan moral seyogyanya menjadi bagian dari agenda besar para calon pemimpin di masa yang akan datang, agar Indonesia menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.

Referensi :
- Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, Perlindungan terhadap Korban Kekerasan, Refika Sditama, Bandung: 2001
- Mashad, Dhurorudin, Andai Aku Jadi Presiden : Menuju Format Indonesia Baru, Khalifa, Jakarta: 2004
- http://arsip.idrus.net/2007/02/sudah-begitu-terpurukkah-moral-bangsa.html
- http://charleschristian.wordpress.com/2008/02/01/kejahatan-di-indonesia-sungguh-memprihatinkan/

Sabtu, 26 Maret 2011

ARTI dengan MAKNA itu BERBEDA...

Tak pernah bosan saya bilang itu! arti dengan makna itu beda. tau arti tapi makna dan feel-nya gadapet? sama aja bohong. percaya?

bukti:
bagi saya pribadi yang orang sunda, saya sangat merasa tidak terganggu dengan kata pantek, asu, jancuk, dan kata semacamnya. hhahaha karena feelnya gadapet. maknanya ga dapet dan ganyampe ke hati. meskipun tau arti dari kata-kata itu.

jadi? arti dan makna itu beda kan? atau saya yang bego? :D.hhahaha
*berharap anda yang baca ini akan setuju.....

Dapat Pacar Hilang Teman.


Pacar? Waw emang amazing sekali kata ini. Gak gaul sepertinya kalo gak sering-sering bilang kata ini. Gak hanya orang dewasa yang akrab dengan kata pacar. Anak kecil pun sekarang udah sangat fasih dan hatam. apalagi perempuan! huuuush tiap ada waktu ngumpul, hampir dapat dipastikan pasti ngomongin tentang pacar, pacaran, sayang, jadian, nembak, and the fucking another word :D. Salah? gak sama sekali. TAPI saya pribadi gak terlalu suka dengan itu semua. hhaha hey you are on my blog, now. kalo saya viking, pasti bilang blog aing kumaha aing :D.

kembali pada judulnya! ada beberapa fenomena yang terjadi saat sekarang dan saya baru menyadarinya. ternyata pacar dan berpacaran itu bisa mengakibatkan anda sekalian kehilangan teman. maksudnya adalah mungkin karena sudah merasa dunia milik berdua, jadi semuanya dilakukan berdua. ke sana ke sini berdua dan itu mengakibatkan anda benar-benar berdua di dunia ini. bahkan mungkin bagi anda atau pasangan anda termasuk orang yang super posesif, maka tidak lain tidak bukan anda akan me-remove atau menyuruh pasangan anda meremove beberapa teman anda atau teman pasanga anda. hhhahha aneh aneh aneh. berhati-hatilah kawan :D........

punya pacar harus tetap punya teman :)

Rabu, 23 Maret 2011

Big Girls Don't Cry


The smell of your skin lingers on me now

You're probably on your flight back to your home town

I need some shelter of my own protection baby

To be with myself in center

Clarity, peace, serenity

I hope you know, I hope you know

That this has nothing to do with you

It's personal, myself and I

We've got some straightenin' out to do

And I'm gonna miss you like a child misses their blanket

But I've got to get a move on with my life

It's time to be a big girl now

And big girls don't cry D

on't cry, don't cry, don't cry

The path that I'm walking,

I must go alone

I must take the baby steps till I'm full grown, full grown.

Fairytales don't always have a happy ending, do they?

And I forseek the dark ahead if I stay

I hope you know, I hope you know

That this has nothing to do with you

It's personal, myself and I

We've got some straightenin' out to do

And I'm gonna miss you like a child misses their blanket

But I've got to get a move on with my life

It's time to be a big girl now

And big girls don't cry

Like the little school mate in the school yard

We'll play jacks and uno cards

I'll be your best friend and you'll be my valentine Y

es you can hold my hand if you want to

'Cause I want to hold yours too

We'll be playmates and lovers and share our secret worlds

But it's time for me to go home

It's getting late, dark outside

I need to be with myself in center

Clarity, peace, serenity

Contoh Bab 1 "Pengaruh Pendidikan Kepramukaan dalam Membangun Jiwa Kepemimpinan Setiap Anggota Racana Padjadjaran"

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Praja Muda Karana atau yang lebih dikenal dengan akronimnya, Pramuka, merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi pramuka siaga, pramuka penggalang, pramuka penegak dan pramuka pandega. Pramuka siaga dapat kita temukan di sekolah-sekolah dasar dengan kelompok umur 7-10 tahun, pramuka penggalang dapat kita temukan di sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dengan kelompok umur 10-15 tahun, pramuka penegak dapat kita temukan di sekolah-sekolah menengah atas dan universitas dengan kelompok umur 16-20 tahun, dan pramuka pandega dapat kita temukan di perguruan-perguruan tinggi yang mempunyai organisasi gerakan pramuka dengan kelompok umur 21-25 tahun. Gerakan pramuka itu sendiri merupakan wadah atau organisasi pendidikan nonformal yang menyelengarakan pendidikan kepramukaan.

Berdasarkan Kepres Nomor 104 Tahun 2004 tentang pengesahan anggaran dasar gerakan pramuka yang memuat di dalamnya anggaran dasar gerakan pramuka, menjelaskan bahwa kepramukaan merupakan cara pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia atau potensi yang dimilki kaum muda, yang dilaksanakan dengan Metodik Kepramukaan. Metodik Kepramukaan diterapkan dalam semua kegiatan dengan cara pengamalan kode kehormatan pramuka; belajar sambil mengerjakan (peserta didik berpartisipasi aktif bersama rekannya dalam setiap kegiatan yang diikitunya); kegiatan kelompok kecil (dilakukan dalam kelompok kecil untuk mengembangkan ketrampilan, kelompok, team work, dan rasa tanggung jawab pribadi yang selanjutnya akan melahirkan kepemimpinan); dan kegiatan yang dilakukan di alam terbuka di mana terjadi kontak dengan alam seisinya.

Metodik kepramukaan inilah yang diterapkan oleh Racana Padjadjaran, gerakan pramuka di Universitas Padjadjaran, untuk mengembangkan potensi anggotanya termasuk di dalamnya unsur kepemimpinan. Bagi penulis menarik untuk membahas hal ini. Karena sebagian besar orang yang penulis tanya tetang keberadaan gerakan pramuka di universitas, khususnya di Unpad, menganggap itu adalah hal lucu dan konyol. Kit akan mendapatkan berbagai jawaban ketika berdiri di depan gerbang Unpad dan bertanya tentang keberadaan gerakan pramuka di Unpad. Mulai dari “emang ada pramuka di unpad?”, “pramuka pramudi? Pramuka jarang mandi?”. Jawaban-jawaban tersebut terlontar dengan ketawa seolah meremehkan. “Itu mah zaman SD kali pramuka, masa kuliah juga ada”. Apalagi ditanya mengenai fungsi dan kegunaan dari kepramukaan itu sendiri. Padahal bila dilihat secara kasat mata, orang yang mempunyai background pramuka ternyata memiliki kelebihan dari teman-temannya yang tidak mengikuti gerakan pramuka. Termasuk di dalamnya adalah unsur kepemimpinan. Ada satu poin yang menjadi tanda tanya besar untuk mencoba menganalisis jawaban-jawaban tersebut. Satu, apakah memang Pramuka Unpad ini begitu ”pareumeun” kah sehingga banyak yang tidak tahu -meskipun banyak juga yang tahu- keberadaan gerakan pramuka di Unpad? Ketika penulis konfirmasi hal tersebut kepada Ketua Racana Padjadjaran, Agus Mahardika, beliau menjawab dengan mudahnya ”keun we, nama bagi kami adalah nomor dua. Karena bagi kami, pengembangan anggota jauh lebih penting dan menjadi prioritas kami dibanding dengan dikenal banyak orang. Apalagi dikenal mahasiswa Unpad sendiri, yang sekarang cenderung lebih besar apatisnya”. Jawaban Kang Agus tersebut seakan memberi angin segar bagi penulis untuk meneruskan penelitian kecil-kecilan ini. Mengapa angin segar, karena pengembangan anggota inilah yang penulis bold dalam judul penelitian kali ini, khususnya adalah unsur kepemimpinan.

Kepemimpinan bukan diperoleh dari bakat sejak lahir ataupun dengan mempelajarinya selama beberapa jam pertemuan. Sikap kepemimpinan merupakan sebuah proses yang terus menerus dipelajari dalam tahapan menjadi seorang pemimpin. Baik pemimpin dalam cakupan besar maupu pemimpin untuk dirinya sendiri. Sikap kepemimpinan dalam diri seseorang bukan sesuatu yang sifatnya pasti, tetap, atau juga stagnan. Sikap it uterus membangun diri melalui serangkaian tempaan, sejalan dengan semakin matangnya pola pikir serta kedewasaan sikap. Kepemimpinan tidak akan terlepas dari organisasi. Maksudnya adalah jiwa kepemimpinan seseorang akan tumbuh dan berkembang di lingkungan organisasi. Karena sebagian besar organisasi mempunyai misi untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan anggotanya. ”Misi” tersebut biasanya tercurahkan dalam proses kaderisasi yang ditetapkan oleh pengurus organisasi untuk kebaikan organisasi maupun kebaikan masing-masing individu. Begitupun yang terjadi di Racana Padjadjaran Unpad sebagai organisasi kepramukaan di Universitas Padjadjaran. Menurut Peter Drucker, seorang guru manajemen terkenal, mengatakan bahwa pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berfikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya, dan menegakannya secara jelas dan nyata.

Berdasarkan uraian di ata, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Pendidikan Kepramukaan dalam Membangun Jiwa Kepemimpinan Setiap Anggota Racana Padjadjaran”.

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah pokok yang akan dibahas yaitu adakah pengaruh pendidikan kepramukaan dalam membangun jiwa kepemimpinan dan seberapa besar pengaruhnya terhadap pembangunan jiwa kepemimpinan setiap anggota Racana Padjadjaran.

1.3 TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah mengetahui adanya pengaruh pendidikan kepramukaan dalam membangun jiwa kepemimpinan dan seberapa besar pengaruhnya terhadap pembangunan jiwa kepemimpinan setiap anggota Racana Padjadjaran.

1.4 KEGUNAAN PENELITIAN

1.4.1 Kegunaan Teoritis

Kegunaan penelitian ini jika dilihat dari segi teoritis diharapkan dapat mengembangkan kajian tentang teori kepemimpinan yang bisa muncul dan dikembangkan dengan pendidikan kepramukaan.

1.4.2 Kegunaan Prakktis

Kegunaan praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Kwaran Nasional Gerakan Pramuka dan Kementrian Pemuda dan Olahraga dalam penerapan pendidikan kepramukaan dalam pembangunan karakter termasuk di dalamnya jiwa kepemimpinan.

1.5 RENCANA SISTEMATIKA PENULISAN

Penelitian ini terdiri dari 5 Bab yang dijabarkan melalui beberapa sub-bab. Berikut ini akan penulis jelaskan penjabaran dari setiap bab disertai dengan penjelasan singkat mengenai kegunaan dari masing-masing bab.

Bab 1 diberi judul pendahuluan, merupakan gambaran awal dari ketertarikan peneliti melakukan penelitian ini. Bab 1 terdiri dari ; latar belakang, identifikasi masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, serta rencana sistematika penulisan.

Bab 2 diberi judul tinjauan pustaka, kerangka pemikiran, hipotesis. Merupakan kajian atau studi pustaka yang dilakukan oleh peneliti terhadap teori dari berbagai literatur, buku dan hasil penelitian lainnya yang pernah dilakukan sebelumnya.

Bab 3 diberi judul objek dan metode penelitian, yaitu tempat/unit aktivitas yang akan penulis teliti serta cara atau mekanisme penelitian yang akan digunakan nantinya. Bab ini terdiri dari ; metode penelitian, teknik penelitian, populasi dan sampel, operasionalisasi variabel, metode analisis data, dan uji hipotesis.

Bab 4 diberi judul hasil penelitian dan pembahasan, terdiri dari analisa pendidikan kepramukaan yang diterapkan Racana Padjadjaran untuk membangun jiwa kepemimpinan setiap anggotannya.

Bab 5 diberi judul kesimpulan dan saran. Kesimpulan dan saran yang dibuat oleh penulis diharapkan dapat berguna bagi pihak-pihak yang memerlukan hasil penelitian ini, khususnya Kwaran Nasional dan Kementrian Pemuda dan Olahraga dalam pembangunan karakter generasi muda lewat pendidikan kepramukaan.

Implementasi Pendidikan Kepramukaan dalam Membangun Jiwa Kepemimpinan Setiap Anggota Racana Padjadjaran

ABSTRAK

Maksud dari penelitian kecil-kecilan ini adalah untuk mengetahui sebenarnya bagaimana pendidikan kepramukaan diaplikasikan di Racana Padjadjaran dan bagaimana sebenarnya metode yang dipakai oleh Racana Padjadjaran untuk mengembangkan potensi anggotanya terutama memunculkan dan mengembangkan jiwa kepemimpinan anggota.

Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, hasil penelitian kecil-kecilan ini menunjukan bahwa metode pendidikan di Racana Padjadjaran selaras dengan pendidikan kepramukaan sesuai dengan Kepres Nomor 104 Tahun 2004. Metode pendidikan ini pun ternyata mampu mengembangkan potensi yang dimiliki anggota racana sekaligus memunculkan jiwa kepemimpinannya.

Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa ternyata jiwa kepemimpinan bisa muncul dari kelompok-kelompok kecil yang kemudian dari kelompok kecil inilah dituntut untuk berbicara, memberikan pendapat, dan kemudian kebiasaan-kebiasaan berbicara inilah yang terbawa ke kampus bahkan sampai rumah. Selaras juga dengan teori yang dikemukakan Daniel Goleman bahwa kepemimpinan muncul melalui proses berulang-ulang dan dimulai dari hal-hal yang kecil dan dalam ruang lingkup kecil.

Kata kunci :

Pendidikan Kepramukaan, kepemimpinan, Racana Padjadjaran, metode pendidikan Racana Padjadjaran, kelompok kecil,

Kepramukaan

Praja Muda Karana atau yang lebih dikenal dengan akronimnya, Pramuka, merupakan sebutan bagi anggota Gerakan Pramuka, yang meliputi pramuka siaga, pramuka penggalang, pramuka penegak dan pramuka pandega. Pramuka siaga dapat kita temukan di sekolah-sekolah dasar dengan kelompok umur 7-10 tahun, pramuka penggalang dapat kita temukan di sekolah-sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dengan kelompok umur 10-15 tahun, pramuka penegak dapat kita temukan di sekolah-sekolah menengah atas dan universitas dengan kelompok umur 16-20 tahun, dan pramuka pandega dapat kita temukan di perguruan-perguruan tinggi yang mempunyai organisasi gerakan pramuka dengan kelompok umur 21-25 tahun. Gerakan pramuka itu sendiri merupakan wadah atau organisasi pendidikan nonformal yang menyelengarakan pendidikan kepramukaan.

Berdasarkan Kepres Nomor 104 Tahun 2004 tentang pengesahan anggaran dasar gerakan pramuka yang memuat di dalamnya anggaran dasar gerakan pramuka, menjelaskan bahwa kepramukaan merupakan cara pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia atau potensi yang dimilki kaum muda, yang dilaksanakan dengan Metodik Kepramukaan. Metodik Kepramukaan diterapkan dalam semua kegiatan dengan cara pengamalan kode kehormatan pramuka; belajar sambil mengerjakan (peserta didik berpartisipasi aktif bersama rekannya dalam setiap kegiatan yang diikitunya); kegiatan kelompok kecil (dilakukan dalam kelompok kecil untuk mengembangkan kepemimpinan, ketrampilan, kelompok, team work, dan rasa tanggung jawab pribadi); dan kegiatan yang dilakukan di alam terbuka di mana terjadi kontak dengan alam seisinya.

Metodik kepramukaan inilah yang diterapkan oleh Racana Padjadjaran, gerakan pramuka di Universitas Padjadjaran, untuk mengembangkan potensi anggotanya termasuk di dalamnya unsur kepemimpinan. Bagi penulis menarik untuk membahas hal ini. Karena sebagian besar orang yang penulis tanya tetang keberadaan gerakan pramuka di universitas, khususnya di Unpad, menganggap itu adalah hal lucu dan konyol. Penulis mendapatkan berbagai jawaban ketika berdiri di depan gerbang Unpad dan bertanya tentang keberadaan gerakan pramuka di Unpad. Mulai dari “emang ada pramuka di unpad?”, “pramuka pramudi? Pramuka jarang mandi?”. Jawaban-jawaban tersebut terlontar dengan ketawa seolah meremehkan. “Itu mah zaman SD kali pramuka, masa kuliah juga ada”. Ada satu poin yang menjadi tanda tanya besar untuk mencoba menganalisis jawaban-jawaban tersebut. Satu, apakah memang Pramuka Unpad ini begitu ”pareumeun” kah sehingga banyak yang tidak tahu -meskipun banyak juga yang tahu- keberadaan gerakan pramuka di Unpad? Ketika penulis konfirmasi hal tersebut kepada Ketua Racana Padjadjaran, Agus Mahardika, beliau menjawab dengan mudahnya ”keun we, nama bagi kami adalah nomor dua. Karena bagi kami, pengembangan anggota jauh lebih penting dan menjadi prioritas kami dibanding dengan dikenal banyak orang. Apalagi dikenal mahasiswa Unpad sendiri, yang sekarang cenderung lebih besar apatisnya”. Jawaban Kang Agus tersebut seakan memberi angin segar bagi penulis untuk meneruskan penelitian kecil-kecilan ini. Mengapa angin segar, karena pengembangan anggota inilah yang penulis bold dalam judul penelitian kali ini, khususnya adalah unsur kepemimpinan.

Kepemimpinan

Kepemimpinan bukan diperoleh dari bakat sejak lahir ataupun dengan mempelajarinya selama beberapa jam pertemuan. Sikap kepemimpinan merupakan sebuah proses yang terus menerus dipelajari dalam tahapan menjadi seorang pemimpin. Baik pemimpin dalam cakupan besar maupu pemimpin untuk dirinya sendiri. Sikap kepemimpinan dalam diri seseorang bukan sesuatu yang sifatnya pasti, tetap, atau juga stagnan. Sikap itu terus membangun diri melalui serangkaian tempaan, sejalan dengan semakin matangnya pola pikir serta kedewasaan sikap. Kepemimpinan tidak akan terlepas dari organisasi. Maksudnya adalah jiwa kepemimpinan seseorang akan tumbuh dan berkembang di lingkungan organisasi. Karena sebagian besar organisasi mempunyai misi untuk mengembangkan jiwa kepemimpinan anggotanya. ”Misi” tersebut biasanya tercurahkan dalam proses kaderisasi yang ditetapkan oleh pengurus organisasi untuk kebaikan organisasi maupun kebaikan masing-masing individu. Begitupun yang terjadi di Racana Padjadjaran Unpad sebagai organisasi kepramukaan di Universitas Padjadjaran. Menurut Peter Drucker, seorang guru manajemen terkenal, mengatakan bahwa pondasi dari kepemimpinan yang efektif adalah berfikir berdasar misi organisasi, mendefinisikannya, dan menegakannya secara jelas dan nyata.

Untuk langsung ”ngena” masalah keterkaitan antara proses kaderisasi di Racana Padjadjaran dengan munculnya kepemimpinan seorang anggota racana, penulis langsung mengambil beberapa informan untuk diwawancarai. Ada lima orang yang penulis wawancarai untuk kemudian penulis coba tarik kesimpulan.

Informan pertama bernama Farisa Ulfa yang biasa dipanggil Icca, Fakultas Psikologi 2008. Icca sendiri ternyata sangat merasakan ”kebaikan” yang didapat dari racana untuk mengembangkan dirinya. Icca bukan termasuk orang yang biasa berorganisasi dan mengenal pramuka. Tidak pernah mengikuti organisasi sebelumnya selain KPA, Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung. ”Blah bloh”, Icca menggambarkan dirinya dengan kata itu ketika masuk menjadi mahasiswa baru dan calon anggota di racana. Seiring dengan berjalannya waktu dan proses pendidikan yang dilalui, Icca merasa jauh lebih berkembang untuk meng-explore dirinya. Ketika penulis tanya tentang persentasi pengaruh antara proses di racana dan proses di kampus dalam pengembangan dirinya, Icca menjawab 60% di racana. ”Penulis lebih bisa tampil di depan, bisa mengatur, bisa menyuruh, bisa mempengaruhi, bisa me-lobby, bisa memberikan pendapat, dan bisa memimpin. Akibat racanalah penulis beranidan dipercaya menjadi Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru 2010 Fakultas Psikologi. Itu yang penulis dapat di racana. Anehnya adalah proses untuk mencapai kata ”bisa” itu tanpa disadari dan berlangsung begitu saja”.

Informan kedua bernama Ujang Suhendar, Jurusan Perikanan 2009. ”intinya mah Uje sekarang dengan Uje yang dulu beda. Dulu mah Uje sieun buat sekedar ngobrol di depan banyak orang. Sekarang mah insya alloh berani. Pas jadi PJ pengibaran bendera kemarin, memang Uje akuin banyak salah. Tapi dari situ Uje jadi ketagihan jadi PJ. Pengen nunjukin Uje lebih bisa lagi jadi penanggung jawab.” ”Dibawa ke kampus ketagihannya, bahkan ke rumah.” jawaban Uje ketika ditanya ketagihan untuk menjadi penanggung jawab itu berlaku juga di kampus atau tidak.

Informan ketiga bernama Mimin Minhatul Maula, Fakultas Keperawatan 2009. ”Pramuka sebenarnya memang luar biasa. Sempurna. Cuman penulisngnya hanya sedikit orang yang tahu tentang luar biasanya pramuka. Dari SD udah mulai ikut sampai sekarang di Unpad. 10 inti dari Dasha Dharma sebenarmya sudah mewakili seluruh bagian dari hal-hal yang diperlukan untuk hidup bersosial. Bukan hanya kepemimpinan yang bisa didapat di pramuka tapi masih banyak lagi.

Informan keempat adalah Dicky Naufal, Agrobisnis 2005. ”Sangat komples bila berbicara tentang proses pendidikan kepramukaan di Racana Padjadjaran. Memang berindukkan pendidikan kepramukaan namun di Racana Padjadjaran ini semuanya mengalir seperti air. Tidak ada bukti tertulis pola kaderisasi. Tapi langsung konkrit dilaksankan dan penulis rasa sangat tidak bertentangan dengan AD/ART Gerakan Pramuka Indonesia maupun dengan konsep kepanduan Boden Powell. Pola kaderiasi pun tidak tertulis dengan nyata bahwa pola kaderisai Racana Padjadjaran seperti apa. Memang benar racana mempunyai AD/ART namun untuk khusus tentang pola kaderisasi itu tidak ada. Biasanya itu diserahkan kepada angkatan-angkatan atasnya. Angkatan 2008 melihat angkatan 2007, 2007 melihat 2006, dan begitu seterusnya. Untuk masalah munculnya kepemimpinan dari anggota, itu muncul dari proses yang dilalui di racana. Setiap manusia pasti berkembang.

Informan terakhir adalah penulis sendiri yang akan mencoba memberikan pandangan sekaligus analisis tentang jawaban-jawaban keempat informan sebelumnya dikaitkan dengan konsep kepramukaan dan teori kepemimpinan. Informan pertama dan kedua pada dasarnya adalah sama. Masuk racana sebagai gelas kosong yang kemudian diisi oleh proses yang berlangsung di racana. Sesuai dengan salah satu metodik kepramukaan yang menjelaskan bahwa pramuka itu melakukan kegiatan dengan kelompok kecil, di racana pun selalu melakukan kegiatan dengan kelompok-kelompok kecil. Karena memang kebetulan sekali anggota racana itu sedikit dan dari tahun ke tahun anggota baru racana tidak akan lebih dari sepuluh orang. Namun dari kelompok kecil inlah yang kemudian penulis sadari sebagai alasan mengapa anggota gerakan pramuka pada umumnya dan anggota Racana Padjadjaran pada khususnya dapat mengmbangkan dirinya termasuk munculnya jiwa kepemimpinana. Kelompok kecil ini dilakukan untuk mengembangkan kepemimpinan, ketrampilan, kelompok, team work, dan rasa tanggung jawab pribadi.

Menurut teori yang dikemukakan Daniel Goleman, kepemimpinan muncul melalui proses berulang-ulang dan dimulai dari hal-hal yang kecil dan dalam ruang lingkup kecil. Rasanya memang teori ini benar bila dilihat dari fenomena yang terjadi di Racana Padjadjaran. Setiap rapat yang dilakukan tiap hari Jumat, tidak akan pernah didatangi lebih dari 20 orang. Menurut absensi rapat mingguan, rata-rata yang menghadiri rapat adalah 8 orang. 8 orang inilah yang kemudian dituntut untuk berbicara, memberikan pendapat, dan kemudian kebiasaan-kebiasaan berbicara inilah yang terbawa ke kampus bahkan sampai rumah.

Konsep kepemimpinan itu sendiri berasal dari kata pimpin yang memuat dua hal pokok yaitu pemimpin sebagai subjek dan yang dipimpin sebagai objek. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. Konsep kepemimpinan ini pun ternyata selaras dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh informan sebelumnya. Ketika informan pertama mengatakan “........bisa mengatur, bisa menyuruh, bisa mempengaruhi, bisa me-lobby, bisa memberikan pendapat........”. Secara tidak langsung, jawaban tersebut mengatakan bahwa setidaknya informan pertama dan informan ketiga telah menunjukan memiliki jiwa kepemimpinan.

Penulis rasa memang sudah jelas dan jawaban tentang sebenarnya ada apa di Racana Padjadjaran sehingga anggotanya dapat menunjukan taringnya sebagai pemimpin di lingkungan kampus dan keluarga. Dikaitkan dengan teori pun ternyata selaras dan tidak bertentangan. Dan penulis rasa metode pendidikan yang dipakai di Racana Padjadjaran tidak bertentangan dengan pendidikan kepramukaan bahkan cenderung sesuai. Mungkin dengan adanya artikel penelitian kecil-kecilan ini semakin menguatkan bahwa hal yang luar biasa dimulai dengan hal kecil dan biasa. Diharapkan dengan adanya artikel penelitian, orang-orang tidak lagi memandang pramuka dengan sebelah mata. Menurut Wakil Presiden RI, Boediono, untuk membangun karakter bangsa dan keterampilan yang tinggi, pendidikan di Indonesia selama ini dinilai kurang cukup menyeimbangkan antara pendidikan akademis dengan pendidikan non-akademis. Oleh sebab itu, untuk membangun karakter bangsa yang kuat dan memiliki keterampilan diperlukan pendidikan kepramukaan dan keolahragaan dan kepemudaan untuk dapat ditingkatkan lagi dalam kurikulum sekolah.

Selasa, 22 Maret 2011

Jangan Hiraukan!


Jangan hiraukan mereka yang menilai buruk jalan hidupmu, mereka hanya iri padamu karena hidup mereka yang membosankan...

Asik banget nih pepatah. Kasian dengan orang-orang yang suka nangis karena omongan orang. Udah baca ini kan? Jangan ada lagi air mata karena peduli sama omongan orang, kawan. Memang sangat gampang mencela orang dan rumusnya adalah, apakah mereka mampu ada di posisi kita? Itu yang perlu diingat. Kita luar biasa kawan, jangan pernah mengeluh. Terkadang kita perlu untuk sejenak menutup telinga. :D.

Maaf dan Terima Kasih Harganya Mahal!































maaf dan terima kasih terkadang menjadi kata yang sangat mahal bagi sebagian besar manusia. MAAF, 4 huruf yang seharusnya tidak sulit untuk mengatakannya. bahkan hanya terdiri dari 3 huruf. M, A, F. tapi kenapa orang rasanya susah untuk mengatakan maaf :((. nasib terima kasih juga sama aja kayaknya. berat banget buat bilang thx, makasi, nuhun, atau apapun. mari budayakan maaf dan terima kasih :D

Kamis, 17 Maret 2011

Perempuan itu!





Perempuan itu memutuskan untuk berada dan bertahan di tengah sarang macan. Hidup dengan ribuan macan yang kapan saja siap nerkam. Salah gerak dan salah mengartikan gerak pasti langsung diterkam. Belajar untuk terus berkomunikasi dengan macan-macan itu. Dan siapa tau bisa hidup tenang meski ribuan macan di sampingnya. Tapi saya tau. Perempuan itu hebat dan bisa bertahan!